Sabtu, 13 September 2014

berawal dari benci

 “Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. ERVI  harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Ervi  jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” gerutu Ervi. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Nadia merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemooh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Ervi berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemoohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Ervi  benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Ervi nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Ervi mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Ervi terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring
“Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemoohan atau pun ejekan.

“Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Ervi yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 ,Ervi mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.
“Aduuuuhh” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Ervi sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Ervi pakai kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi berambut ikal tersebut.
***
“Ervi….”
  Ervi menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Devhy teman baiknya sejak SD sedang berlari kearahnya. Dengan santai Ervi membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Ervi memang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Devhy malah menjitak kepalanya dari belakang.
“Woe non, nggak denger teriakan gue ya? Temen macam apa yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Fifhi dengan bibir monyong. Ciri khas sahabatnya tersebut kalo lagi ngambek.
“Sori deh Sya. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas loe tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok sampai tuh cowok permisi pulang, enggak minta maaf lagi.” jelas Devhy panjang lebar.
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Ervi benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.
“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Rusli lho.”
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Ervi membela diri.
Sejenak Devhy terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. 


“Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SD dulu banget. ” ujar Devhy polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalau Rusli nggak suka sama gue.”
“Tau ah gelap!”
***
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMP 1 bontoramba untuk bergegas pulang ke rumah. Ervi sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Devhy masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalau nulis jangan kayak siput” Dengan gemas Ervi mencubit pipi Devhy. “Duluan ya, Sya. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Devhy hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.
Saat Ervi membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar.
“Eh, sori..” ucap Ervi kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Ervi langsung ngasih tampang jutek kepada orang itu

“Ngapain loe kesini?! Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemarin pulang cepet? Hah?! Jadi cowok kok banci baget!!!” Kesal Ervi.
Jujur Rusli udah bosen kayak gini terus sama Ervi. Dia pengen hubungannya dengan Ervi bisa kembali seperti dulu.
“Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Devhy.” ucap Rusli dingin sambil celingak celinguk mencari Devhy. “Hey Sya!” ucap Rusli riang begitu orang yang dicarinya nongol.
“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Devhy sejenak melirik Ervi. Lalu dilihatnya Rusli mengangguk bertanda mengiyakan. “vi, kita duluan ya,” ujar Devhy singkat.

  Ervi hanya bengong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Devhy dan Rusli yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Rusli selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Rusli tidak menggodanya dengan cemoohan atau ejekan khasnya. Rusli juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.

***
Byuuurr.. Sirup rasa stowberry menggalir deras dari rambut Ervi hingga menetes ke kemeja putihnya. Ervi nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.
“Maksud loe apa?” bentak Ervi menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.
“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Ervi. “Riz, mana sirupnya yang tadi?” ucap cewek itu la, tangan kanannya masih menjambak rambut Ervi. Rizma langsung memberi satu gelas sirup yang sudah siap untuk disiram ke Ervi.
“Loe mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan sirup rasa stroberry? Teriak Ervi dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Sartika. Sartika terkenal primadona sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Ervi diem aja. Ia juga tau kalau Sartika tetangga dengan Rusli. Wait, wait.. Rusli??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Rus, sampe gue tau loe biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!
“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama loe.” teriak Ervi sambil mendorong Sartika dengan sadisnya. Ervi benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu di kasih pelajaran.

Kedua teman Sartika, Rizma dan sunarti dengan sigap mencoba menahan Ervi. Tapi Ervi malah memberontak. “Buruan Sar, ntar kita ketahuan.” kata Sunarti si cewek sawo mateng.
Selang beberapa detik, Sartika kembali mengguyur Ervi dengan sirup.
“Jauhin Rusli. Gue tau loe berdua temenan dari SD! Dulu lo pernah nolak Rusli. Tapi kenapa loe sekarang nggak mau ngelepas Rusli?!!”
“Maksud loe?” ledek Ervi sinis.
“Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Rusli. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”
Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Ervi.
“Tapi lo seneng kan?” teriak Sartika tepat disebelah kuping Ervi. Kesabaran Ervi akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokan Ervi mengenai tepat di hidung Ervi. Ervi yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Ervi kalah. Tak perlu lama, Ervi sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.
“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Ervi juga ingin, tapi tertutup oleh Sartika. Dari suaranya Ervi sudah tau. Tapi ia nggak tau benar apa salah.

“Pergi loe semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Ervi melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Ervi dan membantunya untuk berdiri.
“Loe nggak apa-apa kan, vi,?” sesal Rusli.
“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***
Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Ervi dan Rusli berada di ruang UKS. Nadia membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Rusli memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Ervi. Ervi lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Ervi nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.
“Ntar loe pulang gimana?” tanya Rusli polos.
“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Ervi jutek. Rasanya Ervi makin benci sama yang namanya Rusli. Gara-gara Rusli dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Rusli enggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.
“Tadi itu cewek loe ya?” ucap Ervi dengan wajah jengkel.
“Nggak.” ucap Rusli datar.


“Terus kok dia malah ngelabrak gue? Nyuruh jauhin loe segala. Emang dia siapa?” gerutu Ervi kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue enggak mau jauh-jauh sama Rusli. Aduuuhh…
Rusli sejenak tersenyum.
“Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Rusli sambil menunjuk Ervi.
  Ervi terdiam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Rusli menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Nanti bisa pulang sendiri kan?” tanya Rusli.
“Bisalah. Emang loe mau nganter gue pulang?”
“Emang loe kira gue udah lupa sama rumah loe? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupain segala sesuatu tentang diri loe. Gue masih paham benar tentang diri loe. Malah perasaan gue masih sama kayak dulu.” jelas Rusli sejelas-selasnya. Rusli pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Loe ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat loe!” ancam Ervi. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala pusing, malah di kasih obrolan yang makin pusing.
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal loe tau, gue selalu cari gara-gara ama loe itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas loe nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa loe malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin loe berantem.” Sejenak Rusli menanrik nafas.

“Loe mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
Hening sejenak diantara mereka berdua.
“Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Ervi sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Ervi, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapain. Dulu ia nolak Rusli karena Devhy juga suka Rusli. Tapi sekarang?
“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Rusli berbicara tepat saat Ervi sudah berada di ambang pintu UKS.
  Ervi terdiam tak sanggup berkata-kata. Di langkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Rusli yang termenung sendiri.
***
Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Devhy belum datang. Ervi sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Ervi nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Rusli selalu terbesit di benaknya. Apa benar Rusli pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Rusli mau pindah apa nggak, batin Nadia. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”
“Mikirin Rusli maksud loe?” ucap Devhy tiba-tiba udah ada disamping Ervi
“Nih hadiah dari pangeran loe.” Di lihatnya Devhy mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Ervi membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Ervi dan Rusli saat mengikuti LOMBA didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.

Dear Ervi,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu loe nangis gara-gara di hukum sama kakak kelas. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. just kidding J. Loe dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga loe seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke loe gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat loe ga mau jadi pacar gue. I Love You…
                                                                                                                          Salam Sayang,

                                                                                                                              Ruslianto


“Kenapa loe nggak mau nerima dia? Gue tau loe suka Rusli tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Devhy tersenyum.
“Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Rusli. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.” Ujar Devhy menyakinkan Ervi.
“Thanks Dev. Loe emang sahabat terbaik gue.” ucap Ervi tulus.
“Tapi gue tetap pada prinsip gue.” Ucap Ervi yakin.
  Devhy terlihat menerawang.

“Jujur, waktu gue tau Rusli suka sama loe dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia enggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya.
“Dan lo harus janji sama gue kalo loe bakal jujur tentang persaan lo sama Rusli. Janji?” lanjut Devhy sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Ervi menolak tetapi Devhy terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Devhy belum sepenuhnya melupakan Rusli. Tapi Ervi juga tak ingin mengecewakan Devhy. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.
“Janji..” gumam Ervi lirih.
Bagaimana, Romanatis bukan novel cinta yang berjudul berawal dari benci ini? semoga bermanfaat dan bisa untuk mengisi waktu luan dengan positif
 
salam kenal 
ruslay

Tidak ada komentar:

Posting Komentar