Bahan bakar neraka adalah batu,
tetapi ada manusia yang menjadi bahan bakar neraka yaitu manusia yang
telah menjadi batu. Seorang manusia semasa hidupnya tuli, bisu dan buta
dari kebenaran sehingga hatinya menjadi keras bagaikan batu.
Tiba-tiba
sang diri tertegun, apakah aku telah berubah menjadi batu?. Teringat
berbagai ajakan untuk mengikuti pengajian, tapi selalu saja diacuhkan.
Teringat setiap saat adzan berkumandang tetapi selalu saja tak
dihiraukan, berat terasa kaki ini melangkah ke mushola, ke masjid.
Teringat berbagai ceramah yang sayup-sayup terdengar dijalanan dan
segera ditinggalkan. Benarkah diri ini telah menjadi manusia batu?.
“dan perumpamaan
(orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala
yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan
seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka
tidak mengerti.” [Q.S Al Baqarah (2) : 171)
“Perbandingan
kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti
orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar.
Adakah kedua golongan itu sama Keadaan dan sifatnya?. Maka tidakkah
kamu mengambil pelajaran (daripada Perbandingan itu)?.” [Q.S Huud (11) : 24]
“Katakanlah
(hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu
sekalian dengan wahyu dan Tiadalah orang-orang yang tuli mendengar
seruan, apabila mereka diberi peringatan." [Q.S Al Anbiya (21) : 45]
“dan orang-orang yang apabila
diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah
menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” [Q.S Al Furqaan (25) : 73]
“Sesungguhnya kamu tidak dapat
menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan
orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah
berpaling membelakang.” [Q.S An Naml (27) : 80]
“Maka Sesungguhnya kamu tidak
akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan
menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka
itu berpaling membelakang.” [Q.S Ar Rumm (30) : 52]
Lalu bagaimanakah agar diri ini
tidak menjadi manusia batu? Bagaimanakah agar tubuh yang sudah membatu
ini bisa kembali menjadi manusia seutuhnya sebagai Insan kamil?
Bagaimanakah agar diri ini tidak lagi tuli dari mendengarkan kebenaran?
Bagaimanakah agar diri ini tidak lagi bisu dari mengucapkan kebenaran?
Bagaimanakah agar diri ini tidak lagi buta dari melihat kebenaran?
Bagaimanakah agar pikiran ini kembali melunak? Bagaimanakah agar hati
ini kembali menjadi lembut? Bagaimanakah agar jiwa ini menjadi kembali
halus?. Bagaimanakah agar diri ini dapat bersimpu dihadapan Nya dengan
tenang?.
Sebagai seorang muslim, membatunya
diri dikarenakan tidak benar-benar melaksanakan Rukun Islam sehingga
setapak demi setapak hilanglah iman, selangkah demi selangkah
terkikislah sabar dan sedepa demi sedepa hilanglah ikhlas. Rukun Islam
adalah kunci seorang muslim untuk bisa memupuk imannya, menyusun
ilmunya, meninggikan sabarnya, menaungi ikhlasnya dan menjaga ihsannya.
Substansi Syahadat dalam Rukun
Islam adalah iman (I), substansi Shalat adalah ilmu (I), substansi Puasa
adalah sabar (S), substansi Zakat adalah ikhlas (I) dan substansi Haji
adalah ihsan (I). Rukun Islam harus dijalankan secara seimbang dalah
kehidupan seorang muslim. Keseimbangan dalam menjalan kelima Rukun Islam
akan mendorong seorang manusia menjadi insan kamil.
Keseimbangan
hidup seorang manusia hanya bisa diperoleh dengan mengawali
kehidupannya dengan keimanan, melaksanakan seluruh aktivitas
kehidupannya dengan berdasarkan keilmuan yang benar dan diseimbangkan
dengan keikhlasan dan keihsanan dengan berporos pada kesabaran.
Condongnya sang diri pada salah satu dari kelima Rukun Islam akan
membuat kehidupan menjadi tidak seimbang.
Ketidak seimbangan dalam
menjalankan Rukun Islam akan membuat kehidupan seorang manusia goyah.
Seseorang yang hanya bertumpu pada keimanan saja tanpa melengkapi
dirinya dengan ilmu akan membuat amal perbuatannya tidak bernilai.
Seorang yang mengarahkan seluruh hidupnya untuk meriah ilmu dunia saja
yang digunakan hanya untuk meraih kesejahteraan hidup dunia dalam
kungkungan materialisme akan membuat kehidupannya jatuh dalam titik
nadir. Tidak adanya sabar, ikhlas dan ihsan dalam melakoni kehidupan
akan membuat kehidupan ini terserak dan sempit.
Tapi
seringkali manusia tidak menyadari bahwa ketidakseimbangan hidup telah
menimpanya. Seringkali manusia tidak melihat bahwa hidupnya telah
terserak dan semakin menyempit. Ketika tidak menjalankan Rukun Islam
dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya maka manusia akan masuk
kedalam jurang kerugian. Dan kita sudah diberi peringatan bahwa kita,
manusia, akan berada dalam kerugian.
“Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Q.S Al Ashr (103) : 1-3]
Sekarang saatnya bagi kita untuk
mulai menata kembali kehidupan dengan menjalankan Rukun Islam dengan
sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Langkah pertama adalah dengan
memperbaharui keimanan dengan memperbanyak dzikir mengucapkan syahadat.
Rasulullah SAW sudah bersabda : “perbaharuilah imanmu dengan mengucapkan laa ilaaha illallaah”.
Pecahkanlah kebatuan diri dengan
dzikir. Batu yang sangat keras akan pecah dengan pukulan bertubi tubi
tiada henti. Hati yang sudah membatu akan kembali melunak dengan
hantaman dzikir yang tiada pernah henti. Dzikir Laa Ilaaha Illallaah
juga merupakan magnet ilmu, pengokoh sabar , perekat ikhlas, dan
pengikat ihsan. Amin.
Marilah kita berdzikir,
menyehatkan badan, melunakkan pikiran, melembutkan hati, menghaluskan
jiwa. Ataukah kita akan selamanya menjadi manusia batu? Apakah manusia
batu menjadi pilihan kita?. Ataukah menjadi manusia yang berbadan sehat,
berpikiran bersih, berhati lembut dan berjiwa halus yang menjadi
pilihan kita?.
Segala Puji Bagi Allah SWT, Rabb seluruh Alam.
semoga setelah kalian semua sudah membacanya ,dapat hatinya terbuka
rusli

Tidak ada komentar:
Posting Komentar